Difabel dalam Al'Quran (studi analisis Kitab Indonesia Abad ke-20)

Afriyandi, Rikho (2019) Difabel dalam Al'Quran (studi analisis Kitab Indonesia Abad ke-20). Undergraduate thesis, IAIN Palangka Raya.

[img] Text
Rikho Afriyandi-1503130009.pdf

Download (3MB)

Abstract

Difabel sampai saat ini masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Bahkan jauh sebelum itu, yakni dari sebelum masuk abad ke-20, para difabel telah mengalami berbagai diskriminasi. Berbagai istilah unsur bahasa yang memiliki makna menghina, merendahkan, dan sebagainya telah banyak digunakan, seperti penyandang cacat, idiot, kelainan, buta, dan lain sebagainya. Perlindungan terhadap para difabel di Indonesia barulah muncul pada tahun 1997 berupa Undang-undang. Pada saat yang sama, banyak tafsir yang lahir pada saat itu, yakni dari awal abad ke-20 hingga munculnya Undang-undang tersebut. Hal inilah yang membuat peneliti tertarik untuk mengkaji kitab tafsir abad ke-20 di Indonesia untuk melihat pandangan para mufassir tersebut mengenai difabel dalam tafsirnya. Dengan latar belakang tersebut, dirumuskan beberapa permasalahan. Pertama, bagaimana definisi difabel? Kedua, bagaimana definisi difabel dalam Alquran? Dan ketiga, bagaimana pandangan Alquran terhadap difabel dalam kitab tafsir Indonesia Abad Ke-20?

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang berjenis library research atau penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode tematik. Objek yang diteliti adalah penafsiran Mufassir Abad ke-20. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi.

Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, difabel adalah orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan suatu rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan aktivitas secara layak atau normal namun tetap dapat melakukan aktivitasnya dengan cara yang berbeda. Kedua, Alquran tidak menjelaskan mengenai difabel secara eksplisit. Namun, terdapat beberapa istilah-istilah yang digunakannya terkait difabel, yakni s}ummun, bukmun, ‘umyun dan a’raj, yang berarti tuli, bisu, buta dan pincang. Alquran, dalam penjelasannya membagi difabel menjadi dua bagian, yakni difabel fisik dan difabel mental. Difabel fisik yang dimaksud dalam Alquran digunakan untuk menyebutkan keterbatasan atau ketidaksempurnaan yang terdapat pada diri atau fisik seseorang. Sedangkan difabel mental digunakan untuk menyebut orang-orang yang buta, tuli, dan bisu secara teologis. Ketiga, semua Mufassir yang hidup pada masa Abad ke-20, secara umum sangat peduli terhadap keberadaan para difabel. Meskipun demikian, secara khusus para Mufassir tidak ada yang menyinggung mengenai kondisi para difabel dalam konteks ke-Indonesia-an dalam tafsirnya. Terdapat dua penyebab yang mengakibatkan para Mufassir tidak menyinggung kondisi difabel dalam tafsirnya. Pertama, fokus penulisan tafsir. Kedua, metode yang digunakan dalam menafsirkan Alquran. Akhirnya, dengan hasil penelitian ini, didapatkan beberapa rekomendasi, salah satunya adalah agar pembaca, khususnya mahasiswa IAIN Palangka Raya bisa lebih peka terhadap kondisi difabel.

الملخص

الإعاقة الآن ما زالوا يستهين بهم من قبل بعض الناس. حتى قبل ذلك، أي قبل دخول القرن العشرين، كابد المعاقون المحاباة. استخدام المصطلحات اللغوية المختلفة التي لها معاني مهينة وما أشبه ذلك، على نطاق واسع، مثل الإعاقات، والأغبياء، والعاهات، والعمى، وغير ذلك. كتب قانون إندونيسيا عن حماية الإعاقة في عام 1997. في نفس الوقت، ظهرت تفسيرات كثيرة، أي من بداية القرن العشرين إلى ظهور القانون. هذه دراسة مهمة للمفسرين في القرن العشرين إندونيسيا لمعرفة وجهات نظر المفسرين فيما يتعلق بالإعاقة في تفسيراتهم. مع هذه الخلفية، هناك مشكلات البحث، أولا كيف تعريف الإعاقة؟ ثانيا، كيف تعريف الإعاقة في القرآن؟ ثالثا، كيف رأي القرآن عن الإعاقة في كتاب التفيسير القرن العشرين الإندونيسيين؟
هذه الدراسة هي بحث نوعي أوبحث مكتبة باستخدام طرق موضوعية. اقتربت هذه الدراسة مع نهج تاريخي مع نظرية الوظيفة التاريخية. غرض الدراسة هو تفسير القرن العشرين. تقنيات جمع البيانات المستخدمة هي الملاحظة والتوثيق.
نتائج هذه الدراسة هي: أولا، الإعاقات هي حالة جسدية أو عقلية تعرقل من قدرة الفرد على القيام بوظيفة واحدة وتدخّل في قيام النشاطة بطريقة مناسبة أو طبيعية ولكن لا يزال القيام أنشطتهم بطرق مختلفة. ثانياً، لا يفسر القرآن عن الإعاقات صراحة. ومع ذلك، هناك المصطلحات التي يستخدمها فيما يتعلق بالإعاقات، مثل الصم والبكم والعمي والأعرج. قسّم القرآن عن الإعاقة إلى قسمين، هما الإعاقات الجسدية والعقلية. الإعاقات الجسدية في القرآن لإشارة العجز في الذات أو الجسد. بينما الإعاقات العقلية لاهوتيا لإشارة إلى الصم والبكم والعمي. ثالثا، لم يذكر جميع المفسرين الذين في القرن العشرين يعاتب إلى الإعاقات إندونيسيا في تفسيراتهم. هناك سببان عدم الإساءة إلى المفاسر في تفسير هما تركيز التفسير وطريقة لتفسير القرآن. وأخيراً، مع نتائج هذه الدراسة، هناك العديد من التوصيات، واحدة منها هي أن القراء، وخاصة طلاب جامعة الإسلامية الحكومية بالنكا ريا، يمكن أن يكونوا أكثر حساسية لظروف الأشخاص ذوي الإعاقة

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Tafsir; Penasiran
Subjects: Keislaman > Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah > Jurusan Ushuluddin > Program Studi Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Depositing User: Unnamed user with email daniaty_marina@yahoo.com
Date Deposited: 07 Feb 2020 09:08
Last Modified: 07 Feb 2020 09:08
URI: http://digilib.iain-palangkaraya.ac.id/id/eprint/1875

Actions (login required)

View Item View Item