Konsepsi jihad dalam perspektif Imam Al-Ghazali

Kastolani, Perdi (2017) Konsepsi jihad dalam perspektif Imam Al-Ghazali. Undergraduate thesis, IAIN Palangka Raya.

[img] Text
Skripsi Perdi Kastolani - 1003110311.pdf

Download (2MB)

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi karena adanya fenomena menarik yang terjadi dikalangan masyarakat saat ini. Seperti aksi bom bunuh diri yang terjadi di Legian Bali, Kedubes Australia dan lain sebagainya. Deretan aksi tersebut kemudian oleh media Barat disebarkan sebagai aksi perlawanan umat Islam terhadap orang-orang non-Muslim. Akibatnya, jihad kemudian mengalami pergeseran makna yang semula luas menjadi lebih sempit. Melalui kitab Ihya’ ‘ulum al-din, al-Ghazali mengatakan jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu. Pernyataan tersebut membuat peneliti merasa tertarik ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang jihad nafsu, sehingga yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah makna jihad menurut al-Ghazali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui atau jihad yang dikonstruksikan oleh al-Ghazali dalam karya besarnya Ihya’ ‘Ulm al-Din.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode yang biasa dikenal dengan library research. Subjek dalam penelitian ini adalah Imam al-Ghazali. Objek kajian adalah konsepsi jihad dalam perspektif Imam al-Ghazali. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah analisis isi (Content Analysis) dengan cara deskriptif interpretatif yakni isi yang disajikan diberikan penafsiran dan pembahasan, khususnya masalah-masalah pokok terhadap data yang ditemukan.
Dari hasil penelitian ini, untuk sementara peneliti baru menemukan tiga macam jihad yang disebutkan al-Ghazali, yakni: Pertama: Jihad dalam menghadapi orang-orang kafir. Ini merupakan jihad lahiriah, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah swt. dalam surat al-Maidah ayat 54. Kedua, Jihad terhadap orang-orang batil, dengan jalan memberikan pengertian dan menyertainya dengan argumentasi (hujjah). Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt. pada surat an-Nahl ayat 25. Ketiga, Jihad melawan nafsu yang selalu memerintahkan untuk melakukan kejahatan. Sebagaimana firman Allah swt. dalam surat al-Ankabut ayat 69.
Hasil penelitian selanjutnya adalah, menunjukkan bahwa al-Ghazali sangat menekankan untuk melaksanakan perjuangan melawan hawa nafsu sebelum melakukan jihad yang lain. Hal ini terlihat bagaimana peran al-Ghazali dalam membangun ulang umat Islam pada saat Perang Salib berlangsung. Hal ini ditunjukkan oleh Ali al-Sulami yang mengutip pendapat al-Ghazali. Ia mengatakan, satu-satunya solusi yang dapat menyelamatkan wilayah-wilayah Muslim yang dikuasai tentara Salib adalah menyerukan kaum Muslim kepada jihad al-nafs. Sebab, menurut al-Sulami, melakukan jihad melawan pasukan Salib akan hampa jika tidak didahului dengan the greater jihad (al-jihad al-akbar). Apa yang dilakukan al-Ghazali ini, pada dekade-dekade berikutnya bergulir menjadi gerakan perbaikan (islah) yang mencapai puncaknya pada satu generasi berikutnya, yaitu pada era syaikh Abdul Qadir al-Jilani (w. 1166). Pada era tersebut, kebanyakan ulama menyatukan fiqih dan kezuhudan (tasawuf) di dalam dirinya, perpecahan mazhab telah digantikan oleh ukhuwah Islamiyah, serta berdiri banyak madrasah yang melahirkan generasi baru, generasi yang kemudian melahirkan tokoh seperti Shalahuddin al-Ayyubi (w. 1193). Hal ini dijelaskan dengan sangat baik oleh Dr. Majid al-Kilani di dalam bukunya Misteri Masa kelam Islam (Hakadza Dzahara Jilu Shalahuddin). Generasi baru yang dilahirkan oleh gerakan islah itu kemudian menjalankan fungsi jihad dengan baik dan efektif serta mampu menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ’alamin. Semua itu bermula dari jihad al-nafs.

ABSTRACT

The background of the research is the interesting phenomenon that happened in the society today. Such as suicide bombings occurred in Legian Bali, Embassy of Australia and so on. The row of action by Western media called as an insurgency against Muslims of non-Muslims. As a result, jihad then undergoes a shift of meaning that was previously broadened to become narrower. Through the Ihya ‘ulum al-din, al-Ghazali says the ultimate jihad is jihad against the passions. The statement that makes the researcher interested to know more about jihad of passions, and it becomes the problem formulation in this research is; what is meaning of jihad according to al-Ghazali. The purpose of this study is to know or jihad is constructed by al-Ghazali in his book Ihya ‘Ulm al-Din.
This research was a qualitative research with library research method. The subjects in this study were Imam al-Ghazali. The object of the study was about the conception of jihad in the perspective of Imam al-Ghazali. Content analysis was used as data analysis by way of descriptive interpretative, which is the interpretation and discussion of data, especially the principal problems to the data.
Research results, it found three kinds of jihad that mentioned by al-Ghazali, comprised: First: Jihad against of infidels (kafir). This is a lahiriah jihad, as explained in the Word of Allah swt in the al-Maidah verse 54. Second, Jihad against the vanity, by giving understanding and accompanying it with an argument (hujjah), as explained in the word of Allah swt in the an-Nahl verse 25. Third, Jihad against the passions is always ordered to commit the crimes, as the word of Allah swt in al-Ankabut verse 69.
The further research results showed that al-Ghazali is much stressed to carry out the struggle against passions before another jihad. It is seen from the role of al-Ghazali in rebuilding Muslims at the time of the Crusade war. It is shown by Ali al-Sulami who quotes al-Ghazali, he said the only solution that could save the Muslim-controlled areas of the Crusaders was to call Muslims to jihad al-nafs. Because, according to al-Sulami, jihad against the Crusaders would be nothing if not preceded by the greater jihad (al-jihad al-akbar). The al-Ghazali movement, in the following decades, moved into a movement of improvement that became greater in the next generations, that is in the era of Shaykh Abdul Qadir al-Jilani (1166). In that era, most scholars’ are united the Fiqh and Zuhud (Sufism) within their self, the schism of the sect had been replaced by ukhuwah Islamiyah (Islamic brotherhood), and there were a lot of Madrasah (Islamic school) which bring forth a new generation, a generation which had a character like Saladin al-Ayyubi (d123). It is very well explained by Dr. Majid al-Kilani in his book ‘The Mystery of the Dark Age of Islam (Hakadza Dzahara Jilu Saladin)’. The new generation that was born by the movement of improvement then perform the function of jihad as well and effectively and able to display the face of Islam rahmatan lil 'alamin. All it begins with jihad al-nafs.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Konsep Jihad
Subjects: 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies
Divisions: Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah > Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam > Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
Depositing User: puttry puttry
Date Deposited: 10 Oct 2018 02:11
Last Modified: 10 Oct 2018 02:16
URI: http://digilib.iain-palangkaraya.ac.id/id/eprint/1196

Actions (login required)

View Item View Item